D I A K U I N: Tradisi
Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Showing posts with label Tradisi. Show all posts

Sunday, April 13, 2014

37

Batimung, Tradisi Urang Banjar

Batimung, Tradisi Urang Banjar
source: melayuonline.com
Di tengah serbuan berbagai macam jenis kosmetik modern dan berbagai cara perawatan kesehatan dan kecantikan di salon-salon, ada satu adat budaya di Kalimantan Selatan yang sampai sekarang masih dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Batimung, membuang keringat dari badan dengan cara diasapi serta ditambahkan bunga-bungaan dan ramuan alami untuk memberi keharuman kepada badan orang yang ditimung tadi. Batimung salah satu syarat bagi calon pengantin untuk menghadapi pesta perkawinannya nanti. Tujuannya agar mempelai laki-laki dan perempuan saat acara berlangsung tidak mengeluarkan bau keringat biasa tetapi berganti menjadi bau harum yang menambah pesona. 

Proses batimung biasanya dilakukan pada malam hari, dilaksanakan oleh para wanita dari keluarga orang yang batimung. Untuk keperluan batimung biasanya terdiri dari:
  1. Bedak atau wadak, yang sering disebut mangir wangi. Terbuat dari beras kencur ditambah dengan bahan alami lainnya yang mengandung wangi-wangian.
  2. Bahan-bahan tambahan tersebut direbus sehingga uap itulah yang akan memberikan bau harum. Bahan tambahan antara lain, daun pudak/pandan wangi, tamu giring, limau purut, kulit bawang merah, babakan pula santan, kayu manis, menyan, daun sop, pucuk ganti, mang soe sebangsa akar, bunga akar. Semua bahan tersebut dibuat dalam ramuan kecil-kecil kemudian dimasukkan kedalam kuantan lalu direbus sampai mendidih, tutupnya dijaga agar jangan terbuka sehingga asapnya keluar sebelum diperlukan.
  • Sebelum memasuki timungan, badan orang yang akan ditimung dibedaki dengan wadak sampai bersih dan harum sehingga segala kotoran yang melekat di tubuhnya hilang. Membedaki dilakukan oleh para wanita yang ditugaskan. Biasanya sambil membedaki ini calon pengantin akan digoda dengan senda gurau para pembedak.
  • Setelah selesai diwadak, calon pengantin disuruh duduk di atas sebuah bangku yang rendah disebut dadampar, kemudian segala pakaian yang melekat disuruh tanggalkan diganti dengan selimut tebal beberapa lapis sampai ke atas kepala kecuali muka dan hidung.
  • Selesai diselimuti, barulah ramuan mendidih tadi diletakkan dibawah dadampar dan tutupnya dibuka sehingga uap harum bisa keluar dan membasahi tubuh orang yang batimung. Biasanya bagi calon pengantin laki-laki, acara batimung cukup tiga hari, tetapi bagi calon pengantin wanita bisa sampai satu minggu bahkan ada yang hampir satu bulan. Setelah acara batimung selesai akan terlihat perbedaan nyata yang tampak pada kulit orang batimung serta keringatnya mengeluarkan bau yang harum. portalbanjarmasin.com
Demikian artikel tentang Batimung, Salah satu Tradisi Urang Banjar sebelum berlangsungnya pernikahan. Semoga bermanfaat ..

Tuesday, February 4, 2014

100

Tradisi Orang Banjar

Assalamualaikum sahabat blogger, gimana kabar kalian? semoga dalam keadaan sehat wal'afiat yaaa. Aamiin. Hari ini +Dwi Alfina bakal share "Tradisi Orang Banjar", langsung aja cekidot..

Tradisi Orang Banjar

Berikut beberapa kesenian/budaya khas daerah Kalimantan Selatan yang pada masa sekarang ini tampaknya sudah menjadi asing bagi masyarakatnya sendiri. Untuk itu disini aku akan memberikan sedikit gambaran dari kesenian-kesenian/budaya-budaya tersebut agar setidaknya kita (khususnya masyarakat Kalsel), masih bisa mengenal, mencintai, melestarikan dan mengembangkan kesenian/budaya khas daerah kita yaitu Kalimantan Selatan

1. MADIHIN 

Madihin berasal dari kata madah, dalam bahasa Arab artinya nasihat, tapi bisa juga berarti pujian. Puisi rakyat anonim banjar di Kalimantan Selatan saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar. bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis. 

Selain itu madihin juga di artikan sebagai kesenian khas banjar (kal-sel), madihin adalah sejenis kesenian bermusik yang menggunakan gendang seperti rebana dan pelantun yang berkata bijak, biasanya kata-kata dari pelantun madihin keluar secara sendirinya tanpa dibuat atau dihafal sebelum bermadihin, jadi tidak semua orang bisa menjadi pelantun madihin. 

Madihin bisa dimainkan sendiri ataupun berdua dengan bergantian. di daerah banjar sendiri pelantun madihin yang lumayan terkenal seperti Jon Tralala.

2. BAUSUNG
Budaya Orang Banjar
Pengantin Bausung
Budaya bausung adalah salah satu budaya unik yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan. Bausung diambil dari kata usung artinya gendong. Sepasang mempelai sebelum disanding di pelaminan terlebih dahulu diusung oleh dua orang penari. Diiringi gamelan, dua orang penari sambil menggendong kedua mempelai menari mengikuti irama gamelan ditengah pandangan para undangan yang menyaksikan acara tersebut.
3. TANGLONG 
Tradisi Orang Banjar
Tanglong
Tradisi budaya suku Banjar yang satu ini, menjadi salah satu warisan yang masih dipertahankan dari Ramadan ke Ramadan. Namanya Tanglong Salikuran atau Pawai Lampion Hias  pada Malam 21 Ramadan. Kemeriahan pun terpancar di sepanjang jalan-jalan utama Banjarmasin yang menjadi rute pelintasan peserta pawai tanglong.

Lampion yang diarak, bukan lampion biasa. Sebab bentuk dan model lampionnya merupakan simbol kegiatan keislaman. Dari bentuk miniatur masjid, onta padang pasir, jamaah haji, rumah adat Banjar, beduk hingga  bentuk replika burung buraq.  

Bahan lampion menggunakan kertas  berwarna warni dan sejumlah kain yang ditopang rotan dan bilah bambu sebagai kerangka. Pembuatan tanglong biasanya dikerjakan keroyokan dengan dana urunan (patungan) antarwarga. Diperlukan waktu seminggu hingga 15 hari untuk membuatnya. Lampion ini biasanya dibuat di atas becak, sepeda, sepeda motor, hingga mobil.

Konon tradisi tanglong ini sudah ada sejak munculnya Islam di tanah Banjar. Dulunya warga akrab dengan Badadamaran atau menyalakan lampu dari getah kayu damar. Lampu-lampu pelita ini biasanya mereka pajang di halaman rumah dan pinggiran jalan sejak malam 21 Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Namun sejak 25 tahun silam, tradisi badadamaran ini memudar seiring habisnya damar dan tergantikan dengan pelita dari sumbu kain yang diletakkan di botol syrup bekas atau kaleng kemasan. Seiring waktu, tradisi memajang lampu ini perlahan bergeser pola dan bentuknya. 

Tidak lagi sekadar nyala lampu tetapi tergantikan dengan lampion-lampion bersolek dengan warna-warna cemerlang yang berbentuk simbol dan panji keislaman. Sehingga suasana kemeriahan Ramadan terus terjaga di malam hari, terutama bagi warga yang kerap beritikaf di malam-malam ganjil bulan Ramadan.

Sebab di malam-malam itu pula Allah SWT menjanjikan akan menurunkan Lailatul Qadar, sebagai malam paling dinanti dan diimpikan umat muslim di segala semesta alam. 

Sekian dulu artikel "Tradisi Orang Banjar" semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua .. Aamiin

Monday, December 16, 2013

62

Pasar Terapung Muara Kuin

Pasar Terapung Muara Kuin
Pasar Terapung Muara Kuin
Pasar Terapung Muara [Sungai] Kuin atau Pasar Terapung Sungai Barito adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar Terapung Muara Kuin merupakan pusaka saujana Kota Banjarmasin. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul tujuh pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.

Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.

Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_Terapung_Muara_Kuin